Museum Geologi Pada Masa Penjajahan Jepang dan Kemerdekaan

Museum Geologi Pada Masa Penjajahan Jepang dan Kemerdekaan – Jadi akibatnya karena kekalahan pasukan Belanda dari pasukan Jepang pada perang dunia II, kehadiran Dienst van den Mijnbouw selesai.

Letjen. H. Ter Poorten (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia pada Letjen. H. Imamura (Panglima Tentara Jepang) pada th. 1942.

Penyerahan itu dikerjakan di Kalijati, Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium beralih kepengurusannya serta dinamakan KOGYO ZIMUSHO.

Satu tahun lalu, bertukar nama jadi CHISHITSU CHOSACHO.

Sepanjang masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik serta melatih beberapa pemuda Indonesia untuk jadi : PETA (Pembela Tanah Air) serta HEIHO (pasukan pembantu bala tentara Jepang pada Perang Dunia II).

Laporan hasil aktivitas pada saat itu sedikit yang diketemukan, karna banyak dokumen (termasuk juga laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan ketika pasukan Jepang alami kekalahan di mana-mana pada awal th. 1945.

Museum Geologi Masa Kemerdekaan

Sesudah Indonesia merdeka pada th. 1945, pengelolaan Museum Geologi ada di bawah Pusat Djawatan Tambang serta Geologi (PDTG/1945-1950). Pada tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat serta Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indi√ęs Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia.

Mereka mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta. Di Bandung, mereka berupaya kuasai kembali kantor PDTG yang telah dikuasai oleh beberapa pemerintah Indonesia. Desakan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 serta No. 8, Bandung, pada tanggal 12 Desember 1945.

Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong juga oleh gugurnya seseorang pengemudi bernama Sakiman dalam rencana berjuang menjaga kantor PDTG.

Pada saat itu, Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi membangun Sisi Tambang, yang tenaganya di ambil dari PDTG. Sesudah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda membangun sekali lagi kantor yang bernama Geologische Dienst di tempat yang sama.

Di mana-mana berlangsung pertempuran. Jadi, mulai sejak Desember 1945 s/d Desember 1949, yakni sepanjang 4 th. berturut-turut, kantor PDTG terlunta-lunta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Pemerintah Indonesia berupaya menyelamatkan dokumen-dokumen hasil riset geologi. Hal semacam ini mengakibatkan dokumen-dokumen itu mesti beralih tempat dari Bandung, ke Tasikmalaya, Solo, Magelang, Yogyakarta, serta baru lalu, pada th. 1950 dokumen-dokumen itu bisa dikembalikan ke Bandung.

Dalam usaha penyelamatan dokumen-dokumen itu, pada tanggal 7 Mei 1949, Kepala Pusat Jawatan Tambang serta Geologi, Arie Frederic Lasut, sudah diculik serta dibunuh tentara Belanda. Ia sudah gugur jadi kusuma bangsa di Desa Pakem, Yogyakarta.

Sekembalinya ke Bandung, Museum Geologi mulai memperoleh perhatian dari pemerintah RI. Hal semacam ini dapat dibuktikan pada th. 1960, Museum Geologi dikunjungi oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno.

Pengelolaan Museum Geologi yang awal mulanya ada di bawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG), bertukar nama jadi : Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Riset serta Pengembangan Geologi (1978 – 2005), Pusat Survey Geologi (mulai sejak akhir th. 2005 sampai saat ini)

Bersamaan dengan perubahan jaman, pada th. 1999 Museum Geologi memperoleh pertolongan dari Pemerintah Jepang sejumlah 754, 5 juta Yen untuk diperbaiki.

Sesudah ditutup sepanjang setahun, Museum Geologi di buka kembali ke tanggal 20 Agustus 2000. Pembukaannya diresmikan oleh Wakil Presiden RI pada saat itu, Ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan serta Daya Ayah Susilo Bambang Yudhoyono.

Dengan pengaturan yang baru ini peragaan Museum Geologi terdiri jadi 3 ruang yang mencakup Histori Kehidupan, Geologi Indonesia, dan Geologi serta Kehidupan Manusia.

Sedang untuk koleksi dokumentasi, ada fasilitas penyimpan koleksi yang lebih mencukupi. Diinginkan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi akan lebih gampang dibuka oleh pemakai baik peneliti ataupun group industri.

Mulai sejak th. 2002 Museum Geologi yang statusnya adalah Seksi Museum Geologi, sudah dinaikkan jadi UPT Museum Geologi. Untuk menggerakkan pekerjaan serta peranannya dengan baik, dibuatlah 2 seksi serta 1 SubBag yakni Seksi Peragaan, Seksi Dokumentasi, serta SubBag Tatausaha.

Manfaat lebih memaksimalkan perananya jadi instansi yang memasyarakatkan pengetahuan geologi, Museum Geologi juga membuat aktivitas diantaranya penyuluhan, pameran, seminar dan aktivitas survey riset untuk pengembangan peragaan serta dokumentasi koleksi.

Pergeseran peranan museum, selaras dengan perkembangan tehnologi, jadikan museum geologi jadi :

  • Tempat pendidikan luar sekolah yang terkait dengan bumi serta usaha pelestariannya.
  • Tempat orang lakukan kajian awal sebelumnya riset lapangan. Di mana Museum Geologi jadi pusat info pengetahuan kebumian yang melukiskan kondisi geologi bumi Indonesia berbentuk himpunan peraga.
  • Objek geowisata yang menarik.

Buat yang mau liburan ke Bandung, saya berikan rekomendasi tempat pesan paket wisata Bandung terbaik di Dago Holiday.museum geologi